Indonesia | English
Beranda \ Artikel \ Detil Artikel
Perencanaan Simulasi Untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Komunitas Dalam Menghadapi Bencana

DREaM - 15.02.2008,

Disusun Oleh :
Didik S Mulyana  & Fredy Chandra


Melakukan kegiatan simulasi untuk menghadapi ancaman dan potensi bencana memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana kesiapsiagaan komunitas dalam menghadapi ancaman yang berpotensi menjadi bencana. Terdapat 4 komponen penting sebagai parameter apakah sebuah kesiapsiagaan telah terbangun dengan baik atau belum, parameter tersebut adalah 1) Sistem komunikasi dan peringatan dini, 2) Mobilisasi penduduk dan jalur evakuasi, 3) Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) dan 4) Manajemen Barak Pengungsian.

 

Sistem Komunikasi dan Peringatan Dini
Tahapan ini memiliki tujuan untuk menilai efektivitas sebuah informasi peramalan potensi bencana dapat dikomunikasikan hingga ke tingkat Komunitas yang terancam. Sehingga saat terjadi sebuah bencana komunitas memiliki waktu untuk menyelamatkan aset-aset kehidupannya. Disamping itu sebuah sistem komunikasi dan peringatan dini dapat membantu sebuah komunitas yang terancam dalam pengambilan keputusan mengenai tindakan yang perlu dan tepat dalam merespon ancaman.


Tantangan yang seringkali muncul dalam sistem peringatan dini adalah bagaimana menterjemahkan informasi teknis menjadi informasi yang mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat bertindak pada saat yang tepat. Tantangan tersebut sebenarnya dapat di reduksi melalui keterlibatan komunitas yang terancam dan pihak yang berwenang dalam memberikan informasi tersebut. Untuk itu maka sebuah sistem informasi peringatan dini harus memiliki parameter sebagai berikut: 1) menjangkau sebanyak mungkin anggota masyarakat, 2) segera, 3) tegas, jelas dan tidak membingungkan dan 4) bersifat resmi atau disepakati oleh semua pihak.


Sistem peringatan dini biasanya melalui jalur komunikasi yang menginformasikan ramalan ancaman dari suatu lembaga yang berwenang hingga ke satuan kelompok masyarakat terkecil. Penyampaian informasi peringatan dini harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Menginformasikan peringatan secara bertingkat ke masyarakat. Setiap perubahan tingkat peringatan bermakna pada peningkatan kewaspadaan yang harus dilakukan masyarakat
  2. Penyeragaman dan kesepakatan informasi mengenai tanda, simbol dan suara baik dari lembaga yang berwenang maupun dari tim siaga desa sehingga semua pihak dapat mengerti dan memahami informasi peringatan dini yang disamapaikan
  3. Menyepakati atau penunjukan terhadap individu yang berwenang di tingkat  dusun, desa atau kota untuk membunyikan tanda peringatan dini apabila terjadi ancaman berpotensi menimbulkan risiko
  4. Penggunaan alat sistem informasi peringatan dini yang tepat guna. Peralatan informasi peringatan dini yang digunakan tidaklah harus berteknologi tinggi  dan mahal, yang penting dapat berfungsi efektif dan cepat dalam memberikan informasinya.  Disamping itu pemilihan alat peringatan dini harus  mempertimbangkan waktu ancaman berlangsung mulai dari sumber ancaman hingga  sampai di areal pemukiman. Masyarakat pedesaan pada umumnya memiliki alat-alat tradisional yang berfungsi untuk menyampaikan informasi peringatan
  5. Penempatan alat peringatan dan papan informasi di tempat yang strategis sehingga semua orang bisa mengetahui dan mendengarnya
  6. Saran tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat harus konkret dan spesifik
  7. Saran mengenai tindakan yang tidak boleh dilakukan masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko
  8. Bahasa penyampaian informasi sesederhana mungkin dan dalam bahasa lokal/setempat agar dapat dimengerti seluruh orang
  9. Melakukan latihan simulasi sistem komunikasi dan peringatan dini yang teratur dalam periode tertentu di kawasan yang rawan bencana. Hal ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan dan melatih naluri penduduk untuk selalu siap siaga dalam menghadapi ancaman. Disamping itu sebagai kontrol dan penilaian efektivitas dari sistem komunikasi dan peringatan dini yang dilakukan di sebuah kawasan rawan bencana serta pengecekan apakah alat komunikasi dan peringatan dini masih berfungsi dengan baik atau tidak.

Mobilisasi Pengungsi dan Evakuasi
Tahapan in merupakan perencanaan penyelamatan dengan cara pemindahan penduduk yang terancam ke wilayah yang lebih aman. Dalam rancangan rencana evakuasi perlu mempertimbangkan beberapa hal, yakni:

  1. Jumlah penduduk yang terancam, secara detail jumlah perempuan, laki-laki, balita serta kelompok rentan (ibu hamil, lansia dan orang dengan kemampuan berbeda) sebaiknya juga terdata
  2. Situasi lokasi kawasan yang terancam, termasuk didalamnya dimana titik lokasi rumah tangga yang terdapat kelompok rentan, alokasi aset-aset utama masyarakat seperti mata air, peternakan serta dimana letak warga yang memiliki sarana transportasi untuk evakuasi
  3. Pembagian tenaga penduduk di tingkat rumah tangga atau kampung (tingkat terkecil di masyarakat) untuk membantu rumah tangga yang lain yang memiliki anggota keluarga yang banyak atau mempunyai anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan dalam melakukan evakuasi
  4. Lokasi berkumpul yang aman sebelum evakuasi. Titik ini harus telah disepakati oleh komunitas (lokasi berkumpul dapat di tingkat kampung, dusun, desa, kecamatan dan sebagainya tergantung kekuatan dan kecepatan ancaman serta luas wilayah yang terancam. Hal ini bertujuan untuk melakukan koordinasi awal antar penduduk apakah perlu melakukan tindakan evakuasi lanjutan atau tidak, selain itu juga untuk memudahkan proses identifikasi siapa saja yang telah di evakuasi dan belum dievakuasi)
  5. Pemilihan jalur evakuasi yang aman (menjauh dari sumber ancaman) dan jika memungkinkan bedakan antara jalur untuk masuk dan keluar dari wilayah yang terancam sehingga tidak terjadi kemacetan atau kecelakaan ketika proses evakuasi berlangsung
  6. Jumlah sarana transportasi yang tersedia di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dan pengaturan kendaraan evakuasi agar dalam proses evakuasi berlangsung dapat memindahkan seluruh penduduk yang terancam ke wilayah yang aman dengan cepat
  7. Kondisi jalan (lebar, panjang, kerusakan) dan jembatan sepanjang jalur evakuasi mulai dari wilayah terancam sampai dengan wilayah aman yang direncanakan (pos pengungsian)
  8. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di daerah yang aman baik dengan berlari atau menggunakan sarana transportasi seperti sepeda motor, perahu, mobil dll
  9. Kelompok rentan (balita, anak-anak, para lanjut usia, perempuan hamil dan menyusui, para penyandang cacat, orang yang sedang sakit, orang yang hidup dengan HIV/AIDS dsb) dan korban yang timbul mendapatkan prioritas untuk diselamatkan ketika evakuasi berlangsung
  10. Persiapkan surat-surat penting atau surat-surat berharga yang bisa dibawa oleh penduduk dan penempatan surat-surat tersebut mudah dijangkau ketika menyelamatkan diri.

Dalam mendukung sebuah evakuasi sebaiknya tersedia peta evakuasi berbasis komunitas. Pembuatan peta ini bertujuan agar masyarakat memahami kondisi dan situasi kawasan mereka. Disamping itu juga berfungsi sebagai pedoman dalam proses evakuasi. Setiap rumah tangga sebaiknya memiliki satu lembar peta evakuasi sehingga tiap anggota keluarga dapat memahami dan menggunakannya. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam pembuatan peta evakuasi:

  1. Gambar simbol arah utara sebagai pedoman arah. Pedoman letak sumber ancaman juga perlu ditonjolkan sebagai panduan dalam penyelamatan apakah sudah benar menjauh dari sumber ancaman atau belum
  2. Penyebaran dan batas wilayah yang rentan terhadap ancaman. Bertujuan agar masyarakat benar-benar mengetahui tingkat kerentanan wilayah tempat mereka bermukim
  3. Batas administratif wilayah
  4. Tuliskan nama-nama wilayah yang bersangkutan (desa, dusun, kampung dll)
  5. Tandai dengan simbol rumah tangga-rumah tangga yang memiliki anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan sehingga memudahkan penduduk untuk mendahulukan penyelamatan ketika evakuasi berlangsung
  6. Gambarkan sarana jalan serta pembagian tipe jalan (jalan kabupaten/kota, jalan desa, jalan dusun, jalan kampung, jalan setapak), lebar serta kondisi kerusakan jalan. Selain itu sarana infrastruktur seperti jembatan perlu dicantumkan pada peta
  7. Gambarkan letak aset penghidupan yang penting untuk keberlangsungan hidup masyarakat seperti mata air, saluran irigasi, bak penampungan air, dan lumbung padi atau kandang ternak
  8. Gambarkan letak alat pendudukung kesiapsiagaan yang ada seperti pos ronda, sirine mesjid atau lonceng gereja, kentongan dan lain sebagainya tergantung dari kebiasaan kawasan pemukiman yang rawan bencana tersebut. Tandai juga simbol rumah tangga-rumah tangga yang memiliki sarana transportasi yang bisa digunakan untuk evakuasi dan berapa jumlah penduduk yang mampu diangkut dengan alat transportasi tersebut
  9. Gambarkan tata guna lahan yang ada di wilayah tersebut (hutan, sawah, kebun, pemukiman/perumahan, sungai dan sebagainya sesuai kondisi  sebenarnya)
  10. Gambarkan sarana-sarana umum yang ada di wilayah tersebut (balai desa/kelurahan, sekolah, tempat ibadah, lapangan, pelabuhan, perahu dan sebagainya sesuai kondisi yang sebenarnya)
  11. Gambarkan titik lokasi berkumpul serta barak-barak pengungsian yang telah disepakati
  12. Gambarkan jalur evakuasi yang telah disepakati dan telah di simulasikan. Penggambaran jalur disertasi simbol-simbol arah penyelamatan. Dalam penggambaran ini harus diperhatikan apakah jalur evakuasi sudah benar-benar menjauhi ancaman atau belum. Selain itu pertimbangkan pertemuan jalan (pertigaan atau perempatan jalan) yang berpotensi menimbulkan kemacetan atau kecelakaan antar penduduk atau sarana transportasi.

Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
Pada saat bencana terjadi, biasanya jatuh korban baik disebabkan oleh bencana secara langsung maupun tidak langsung. Penanganan pertama terhadap penderita gawat darurat secara cepat dan tepat akan sangat berarti bagi keselamatan penderita gawat darurat. Jika salah melakukan penanganan pertama, hal ini bisa menyulitkan penanganan lanjutan dan bisa menyebabkan memburuknya kondisi penderita yang berujung pada kecacatan permanen bahkan pada kematian.


Seringkali dalam kondisi darurat akibat bencana, jumlah penderita gawat darurat lebih banyak daripada penolong, untuk itu perlu menentukan prioritas dalam melakukan pertolongan pertama. Beberapa hal sebagai pertimbangan dalam menentukan skala prioritas dalam memberikan pertolongan adalah sebagai berikut:

  1. Mendahulukan penderita yang membutuhkan perawatan ringan sehingga dapat membantu memberikan pertolongan atau meminta bantuan ke pihak lain
  2. Memilih penderita yang paling mampu ditolong berdasarkan pada kondisi korban dan kondisi lingkungan yang disesuaikan dengan kemampuan penolong
  3. Memberikan perhatian yang lebih kepada penderita yang mengalami ketakutan dan kepanikan yang tinggi sehingga tidak mengganggu jalannya pertolongan
  4. Apabila posisi penderita tertimbun reruntuhan atau tertutup sesuatu, maka yang pertama ditemukan, dialah yang ditolong
  5. Apabila menemukan korban yang sudah meninggal, usahakan tidak ditangani lebih dahulu, waktu sebaiknya digunakan untuk mencari penderita yang masih bisa diselamatkan
  6. Bila menemukan penderita dengan luka/cedera lebih dari satu, maka urutan prioritas penanganannya sebagai berikut: 1) Gangguan pernafasan, 2) Pendarahan, 3) Gangguan kesadaran, 4) Patah tulang, 5) Shock , 6) Lainnya
  7. Apabila menemukan korban yang telah meninggal, sebaiknya tempatkan jenasahnya di tempat yang mudah terjangkau sehingga akan memudahkan penanganan selanjutnya.

Manajemen Barak
Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan kebutuhan penduduk yang terkena dampak bencana. Yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah kebutuhan para kelompok rentan yang berbeda dengan kebutuhan masyarakat biasa.


Dalam pengelolaan tempat pengungsian beberapa hal yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:

  1. Memilih lokasi pengungsian.
    Memilih lokasi pengungsian merupakan salah satu kegiatan utama. Dalam memilih lokasi pengungsian beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain:
    • Jumlah pengungsi/penduduk yang terancam
    • Tersedianya lahan atau bangunan yang ada sehingga bisa menentukan berapa luasan dan jumlah lokasi pengungsian yang dibutuhkan oleh penduduk yang mengungsi
    • Kemungkinan potensi ancaman baik dari sisi keamanan,  kesehatan maupun risiko dari ancaman alam seperti tanah longsor, banjir, angin topan dll
    • Potensi ancaman yang disebabkan oleh bangunan yang tidak aman, adanya reruntuhan, kemiringan lahan, lahan yang tidak stabil dll
    • Mudahnya akses sarana pendukung seperti prasarana jalan, jembatan, pasokan air dan sanitasi, penerangan, telekomunikasi dan lainnya.
  2. Kepemilikan lahan atau bangunan dan izin penggunaannya.
    Perlu diketahui juga kepemilikan lahan atau bangunan yang direncanakan sebagai lokasi pengungsian. Pengurusan izin atau pemberitahuan selayaknya dilakukan sehingga apabila lahan atau bangunan tersebut benar-benar menjadi lokasi pengungsian maka tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
  3. Prasarana pendukung.
    Prasarana pendukung yang perlu ada atau disediakan bagi para pengungsi di lokasi pengungsian antara lain:
    • Pasokan air bersih. Dari mana asal air bersih bisa diperoleh, apakah dengan mendatangkan air bersih dari luar lokasi pengungsian atau dari sumber air di sekitar lokasi pengungsian. Peralatan apa yang bisa digunakan oleh pengungsi untuk mengumpulkan, menyimpan dan menggunakan air bersih tersebut
    • Sanitasi. Berapa jumlah kebutuhan kamar mandi, tempat mencuci dan buang air besar bagi para pengungsi (sebagai perbandingan 1 jamban maksimal untuk 20 orang), jarak, keamanan dan kemudahan akses fasilitas tersebut oleh pengungsi, bagaimana dengan pengelolaan sampah dan saluran air di sekitar lokasi pengungsian
    • Penerangan. Bagaimana mendapatkan penerangan di lokasi pengungsian pada malam hari. Hal ini untuk menjamin keamanan dan keselamatan bagi para pengungsi terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dan sebagainya
    • Pelayanan kesehatan. Darimana memperoleh pelayanan kesehatan bagi pengungsi?
    • Keamanan. Apakah situasi keamanan dapat dikendalikan? Baik keamanan dari kriminalitas maupun keamanan dari ancaman baik dari alam maupun manusia terutama bagi kelompok rentan (balita, anak-anak, perempuan, manula, orang dengan kemampuan berbeda/difabel, kelompok minoritas dll)
    • Pendidikan. Di beberapa lokasi bencana, gedung sekolah seringkali dipakai sebagai lokasi pengungsian. Apabila jangka waktu pengungsian diperkirakan berlangsung lama dan dapat mengganggu proses belajar mengajar, maka perlu dipikirkan penyediaan lokasi sebagai pengganti untuk tempat belajar mengajar
    • Tempat ibadah dan pertemuan. Perlu juga disediakan atau menggunakan tempat yang ada yang bisa dipakai untuk kegiatan ibadah dan pertemuan bagi para pengungsi
    • Sarana bermain. Penting juga untuk menyediakan atau menggunakan tempat atau lahan yang ada untuk sarana bermain bagi anak-anak sehingga mereka juga bisa melakukan aktivitas bermain selama di lokasi pengungsian
    • Pelayanan masyarakat. Tempat ini berfungsi sebagai pos kooordinasi yang memberikan pelayanan baik kepada pengungsi maupun pihak luar. Biasanya tempat ini berkaitan dengan urusan administrasi dan penggudangan barang.
  4. Akses jalan bagi sarana transportasi.
    Baik pengungsi maupun pihak luar sangat bergantung pada kelancaran akses sarana transportasi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi maupun untuk penyediaan layanan.
  5. Akses telekomunikasi.
    Sarana telekomunikasi, seperti telepon, faksimili, radio HT sangat bermanfaat untuk membantu kelancaran kerja, terutama untuk berhubungan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Selain itu bagi para pengungsi juga akan menjaga mereka tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau pihak lain yang dibutuhkan.
  6. Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
    Kebutuhan dasar pengungsi dibagi menjadi dua yaitu: 1) kebutuhan di tingkat keluarga dan 2) kebutuhan pribadi. Beberapa kebutuhan yang perlu diperhatikan adalah:
    • Air bersih dan sanitasi.  Air bersih dan sanitasi merupakan landasan bagi kelangsungan hidup para pengungsi pada tahap awal bencana. Para pengungsi lebih mudah menjadi sakit atau bahkan bisa berujung pada kematian karena penyakit yang biasanya disebabkan oleh sanitasi yang buruk, kurangnya pasokan air bersih dan buruknya kebersihan
    • Pangan dan gizi. Selain kebutuhan pangan untuk setiap orang, pemenuhan gizi bagi para pengungsi juga perlu diperhatikan. Ada juga kebutuhan khusus bagi kelompok rentan misalnya makanan tambahan/khusus untuk balita yang harus disesuaikan dengan umurnya, kebutuhan gizi untuk perempuan hamil dan menyusui dll
    • Hunian atau penampungan. Tempat hunian atau penampungan berfungsi sebagai tempat perlindungan keamanan dan keselamatan, perlindungan dari cuaca, perlindungan dari gangguan kesehatan serta penyakit. Tempat hunian juga penting untuk menjaga martabat dan mempertahankan kehidupan keluarga dan penduduk terkena bencana. Penyediaan tempat hunian bisa berupa bangunan yang telah ada atau menggunakan bahan baku alternatif seperti tenda, plastik, papan dan sebagainya tergantung sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi pengungsian. Jika jangka waktu pengungsian diperkirakan lama, maka diusahakan agar para pengungsi dikelompokkan per rumah tangga atau kepala keluarga. Hal ini biasanya terkait dengan persoalan psikologis para keluarga  pengungsi
    • Pakaian dan perlengkapan tidur. Orang-orang yang menyelamatkan diri dari bencana seringkali hanya membawa apa yang melekat di badan mereka. Untuk itu  perlu dipersiapkan pakaian pengganti termasuk pakaian dalam, selimut atau sarung sebagai penghangat di malam hari, dan alas tidur untuk menjaga kesehatan para pengungsi. Ada juga kebutuhan khusus untuk balita berupa popok dan selimut
    • Kebersihan pribadi. Kebutuhan untuk memenuhi kebersihan pribadi berupa perlengkapan mandi (sabun, pencuci rambut, sikat gigi, pasta gigi, handuk) dan sabun cuci. Ada juga kebutuhan khusus seperti pembalut bagi perempuan selama menstruasi, bedak dan minyak penghangat bagi balita
    • Perlengkapan memasak dan makan. Jika jangka waktu pengungsian berlangsung lama, sebaiknya setiap keluarga setidaknya memiliki seperangkat alat untuk memasak dan makan minum. Perlu dipikirkan sejak awal bahwa peralatan masak-memasak ini terjaga kebersihannya maupun tidak membahayakan hunian dan pengungsi (misalnya api kompor/tungku dan asap)
    • Pelayanan kesehatan dan pemulihan trauma. Bencana hampir selalu menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan penduduk terkena bencana. Dampak  bencana bagi kesehatan penduduk dapat dibagi menjadi dua yaitu: 1) dampak langsung (misalnya luka/cedera dan trauma psikologis) dan 2) dampak tidak langsung (misalnya meningkatnya tingkat penyakit infeksi, kekurangan gizi dan komplikasi penyakit menahun). Dampak tidak langsung dari bencana terhadap kesehatan penduduk terkena bencana biasanya terkait dengan faktor-faktor seperti tidak memadainya jumlah dan kualitas air bersih, tidak berfungsinya sanitasi, lingkungan yang kotor dan tercemar, terputusnya pasokan makanan, terganggunya pelayanan kesehatan dan jumlah pengungsi yang terlalu padat di satu lokasi pengungsian.

Lampiran Check list untuk persiapan pelaksanaan simulasi:

  1. Sistem Komunikasi dan Peringatan Dini
    • Sistem komunikasi seperti apa yang dipakai untuk menyampaikan informasi mengenai ancaman?
    • Bagaimana tata kerja/mekanisme sistem komunikasi tersebut berjalan?
    • Apa alat komunikasi yang dipilih untuk menyampaikan informasi secara cepat, tepat dan efektif mengingat waktu kedatangan ancaman sangat singkat?
    • Apakah alat komunikasi tersebut tersedia sampai di tingkat yang terendah (RT/RW)?
    • Bagaimana tata cara/mekanisme di desa untuk memastikan bahwa informasi mengenai datangnya ancaman dapat diketahui oleh seluruh penduduk desa?
    • Alat apa yang dipilih untuk membunyikan tanda bahaya?
    • Apakah alat itu mampu menjangkau seluruh penduduk?
    • Dimana alat itu sebaiknya ditempatkan?
    • Apakah semua penduduk mengetahui simbol/bunyi tanda bahaya dari alat tersebut?
    • Siapa saja yang berwenang membunyikan alat/tanda bahaya tersebut?
  2. Mobilisasi Penduduk dan Evakuasi
    • Bagaimana respon penduduk setelah mendengar tanda bahaya berbunyi?
    • Apa saja barang/aset yang mungkin bisa dibawa dalam evakuasi?
    • Bagaimana cara yang ditempuh untuk memastikan bahwa kelompok rentan (balita, anak-anak, perempuan hamil, orang yang sedang sakit, orang dengan kemampuan berbeda, orang jompo ) mendapatkan prioritas dalam evakuasi?
    • Berapa jumlah orang yang melakukan evakuasi?
    • Alat transportasi apa yang tersedia/dipakai untuk melakukan evakuasi?
    • Dimana saja jalur yang dipakai untuk melakukan evakuasi?
    • Apakah jalur evakuasi telah diketahui oleh semua penduduk?
    • Apakah tersedia tanda/rambu di sepanjang jalur evakuasi sehingga memudahkan penduduk mengikuti jalur evakuasi yang telah disepakati?
    • Bagaimana kondisi umum jalur evakuasi tersebut? Kondisi jalan dan jembatan apakah menghambat proses evakuasi?
    • Apakah jalur tersebut aman untuk dilalui? Baik aman dari datangnya ancaman maupun aman dari kecelakaan di jalan?
    • Apakah jalur tersebut aman dari kemacetan baik untuk jalan keluar maupun jalan masuk ke lokasi?
    • Berapa lama waktu yang ditempuh mulai dari penduduk mendengar bunyi tanda bahaya sampai dengan penduduk tiba di lokasi yang aman/tempat pengungsian?
    • Apakah waktu yang ditempuh lebih pendek dari waktu datangnya ancaman di lokasi yang aman/pengungsian?
  3. Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
    • Siapa yang memberikan pertolongan pertama jika ada yang luka/cedera?
    • Apakah mereka mengerti prinsip-prinsip pertolongan pertama?
    • Apakah mereka mengerti prioritas dalam memberikan pertolongan pertama?
    • Apakah mereka mengerti jenis-jenis luka/cedera dan cara penanganannya?
    • Apakah mereka mengetahui dimana mendapatkan perawatan lanjutan bagi penduduk yang luka/cedera?
  4. Manajemen Barak
    1. Perencanaan Lokasi Pengungsian
      • Dimana lokasi yang dijadikan lokasi pengungsian?
      • Apakah lokasi tersebut mampu menampung seluruh pengungsi?
      • Jika ada pengungsi yang tidak tertampung, dimanakah mereka akan ditempatkan?
      • Apakah lokasi tersebut aman? Baik aman dari ancaman utama maupun ancaman yang ada di sekitar lokasi tersebut (banjir, longsor dll)? Serta potensi ancaman yang disebabkan oleh bangunan yang tidak aman, adanya reruntuhan, kemiringan lahan, lahan yang tidak stabil dll
      • Apakah akses sarana dan prasarana pendukung (transportasi, telekomunikasi, penerangan, instalasi air, sanitasi, pelayanan kesehatan dll) tersedia/dapat disediakan di sekitar lokasi pengungsian?
    2. Perizinan dan penggunaan lokasi pengungsian.
      • Apakah pihak yang memiliki lokasi tersebut telah dihubungi dan berapa lama rencana pemakaian lokasi tersebut untuk pengungsian?
      • Adakah kendala/keberatan dari pihak yang memiliki lokasi atas pemakaian lokasi tersebut untuk lokasi pengungsian?
    3. Prasarana pendukung.
      • Apakah saluran air dapat dibuat/disediakan untuk memastikan bahwa lokasi pengungsian terbebas dari genangan air baik dari hujan maupun limbah cair dari para pengungsi?
      • Bagaimana tata cara/mekanisme pengelolaan sampah/limbah padat dari para pengungsi dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan potensi penyakit?
      • Apakah sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) dapat disediakan/dibuat di lokasi pengungsian?
      • Apakah jumlah MCK telah sesuai/memadai dengan jumlah pengungsi yang ada?
      • Apa saja alat/bahan yang dibutuhkan untuk membuat MCK yang dapat disediakan di sekitar lokasi pengungsian?
      • Apakah sarana penerangan dapat disediakan di lokasi pengungsian?
      • Alat/bahan apa saja yang dibutuhkan untuk menyediakan penerangan?
      • Bahan bakar apa yang dibutuhkan untuk memasok kebutuhan penerangan tersebut?
      • Apakah pelayanan kesehatan dapat disediakan di lokasi pengungsian/di sekitar lokasi pengungsian?
      • Bagaimana cara untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan dapat disediakan untuk para pengungsi?
      • Apakah perlengkapan dan peralatan kesehatan cukup memadai?
      • Apakah personel kesehatan (dokter, perawat, bidan, penyuluh kesehatan) sudah memadai/sesuai dengan jumlah pengungsi?
      • Bagaimana sistem keamanan disusun untuk memastikan bahwa keamanan para pengungsi terjamin?
      • Apakah ada kebutuhan untuk penyediaan tempat bagi proses belajar mengajar di lokasi pengungsian?
      • Apakah ada kebutuhan untuk menyediakan tempat bagi ibadah dan pertemuan para pengungsi di lokasi pengungsian?
      • Apakah ada kebutuhan untuk menyediakan tempat/sarana bermain di lokasi pengungsian?
      • Apakah tempat untuk memberikan pelayanan/koordinasi kepada para pengungsi telah tersedia di lokasi pengungsian?

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pengungsi:

  1. Apa alat/bahan yang bisa digunakan untuk mendirikan tempat bernaung/hunian sementara?
  2. Apakah tempat bernaung/hunian sementara yang tersedia mampu menampung seluruh penduduk yang mengungsi?
  3. Jika tempat bernaung/hunian sementara tersebut tidak mampu menampung seluruh pengungsi, dimana mereka yang tidak tertampung akan ditempatkan?
  4. Apakah memungkinkan dilakukan pengelompokan per kepala keluarga di lokasi pengungsian?
  5. Alat/bahan/sarana apa saja yang dapat disediakan untuk mengambil dan menyimpan air bersih di lokasi pengungsian?
  6. Dimana lokasi penyimpanan air bersih ditempatkan?
  7. Apakah setiap keluarga mampu mengakses kebutuhan air bersih di lokasi penyimpanan tersebut?
  8. Alat/bahan apa yang dipergunakan oleh keluarga untuk mengambil air bersih?
  9. Alat/bahan apa yang dipergunakan oleh keluarga untuk menyimpan air bersih?
  10. Bagaimana cara yang dilakukan untuk memastikan kebutuhan makanan bagi para pengungsi terpenuhi?
  11. Apakah perlengkapan dan peralatan memasak dapat disediakan di lokasi pengungsian?
  12. Bagaimana memastikan bahwa pasokan bahan bakar untuk memasak dapat disediakan?
  13. Apakah pemilihan bahan bakar untuk memasak menimbulkan risiko kerusakan lingkungan di sekitar lokasi pengungsian?
  14. Apakah kebutuhan makanan tambahan/khusus bagi kelompok rentan (balita, anak-anak, perempuan hamil, ibu menyusui, orang yang sedang sakit, manula) tersedia?
  15. Apakah ada kebutuhan akan pakaian bagi para pengungsi?
  16. Apakah ada kebutuhan pakaian khusus bagi kelompok rentan (misalnya popok untuk bayi, pakaian anak-anak, pakaian untuk perempuan hamil dll)?
  17. Apakah ada kebutuhan untuk perlengkapan tidur bagi para pengungsi (alas tidur, selimut/sarung dll)?
  18. Apakah ada kebutuhan akan alat kebersihan (peralatan dan perlengkapan mandi) bagi para pengungsi termasuk kebutuhan khusus bagi perempuan (pembalut) dan anak-anak (bedak dan minyak penghangat)?
Komentar :
   Nama ( harus diisi )
   Email ( tidak akan disebar-luaskan ) ( harus diisi )
   Website
      Kode verifikasi ( harus diisi )
UPN "Veteran"Yogyakarta  Ashoka  Komunitas Peduli Bencana  Kappala  UNDP