Konsultasi Lainnya
\ Beranda \ Rubrik Konsultasi \ Detil Konsultasi
Rubrik Konsultasi ini diasuh oleh Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta. Kirimkan Pertanyaan Anda seputar Masalah Pertanian, Bencana Alam, dan Lingkungan Hidup.
Untuk mengirimkan pertanyaan konsultasi Klik Disini
Untuk mengirimkan pertanyaan konsultasi Klik Disini
Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana Gunung Api
Tanya :
Apa yang harus dilakukan dalam upaya preparedness dan mitigasi bencana gunung berapi?
( Ana, Jombang - 23.06.2008 )
Jawab :
Yang harus dilakukan dalam upaya Preparedness atau Kesiapsiagaan :
- Dengan mengenal karakteristik ancaman di suatu wilayah yang berada di kawasan rawan bencana.
- Menganalisis risiko bencana di suatu wilayah dengan melakukan analisis ancaman, analisis kerentanan dan analisis kemampuan.
- Membangun jaringan komunikasi di masyarakat lewat radio HT untuk mengakses informasi-informasi baik dari pemerintah maupun masyarakat secara up to date tentang kondisi gunung api.
- Adanya rencana aksi daerah (RAD) di tingkat pemerintah hingga rencana aksi kampung (RAK) di tingkat masyarakat, yang merupakan kegiatan-kegiatan dalam upaya pengurangan risiko bencana (PRB), seperti pelatihan tentang kebencanaan, membangun sarana-sarana peringatan dini, membangun jaringan komunikasi dan sebagainya.
- Adanya kerjasama setiap pihak terutama masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana gunung api yang tidak mengenal batas administrasi.
- Memfokuskan kegiatan-kegiatan untuk mengurangi risiko sebelum terjadinya erupsi gunung api.
Mitigasi:
- Mitigasi struktural, berupa bangunan-bangunan fisik yang sifatnya untuk mencegah atau mengurangi dampak dari suatu ancaman gunung api. Perlu diperhatikan bahwa mitigasi yang dilakukan harus sesuai dengan konteks ancaman, contohnya: pembangunan dam di sungai-sungai yang berada di bagian bawah untuk tujuan memitigasi ancaman lahar dingin, memasang alat peringatan dini, alat pemantauan gunung api.
- Mitigasi non struktural, adalah upaya-upaya yang dilakukan di masyarakat untuk mengurangi kerentanan-kerentanan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana, contohnya: pelatihan kebencanaan, pelatihan penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD) dll.

